Sabtu, 24 Mei 2008

Model Copes

Bioekonomi yang dikembangkan oleh Parvival Copes menggunakan pendekatan output, yaitu produksi atau yield. Bioekonomi model Copes mengadopsi konsep surplus ekonomi. Dalam ilmu ekonomi, surplus ekonomi dapat ditelusuri setelah mengetahui kurva penawaran dan permintaan. Terdapat dua jenis surplus ekonomi, yaitu surplus produsen (producer surplus) dan surplus konsumen (consumer surplus).
Total dari surplus ekonomi adalah surplus konsumen ditambah surplus produsen. Surplus konsumen adalah selisih antara jumlah yang konsumen bersedia bayar (willingness to pay) dengan yang harus dibayar. Sedangkan surplus produsen adalah selisih jumlah yang diterima (harga berlaku) dengan jumlah yang diharapkan.
Model Copes berbeda asumsi dengan model Gordon-Schaefer yang merupakan model awal pengembangan bioekonomi perikanan. Dalam model Gordon-Schaefer, harga per unit output diasumsikan konstan. Sedangkan dalam model Copes, harga per unit output dapat mengalami fluktuasi.

Pada sisi konsumen, yaitu kurva permintaan, semakin tinggi harga ikan, maka permintaan terhadap ikan semakin sedikit. Hal itu disebabkan adanya kendala anggaran, dimana kenaikan harga akan diikuti penurunan daya beli konsumen. Sebaliknya, pada sisi produsen (nelayan), yaitu kurva penawaran, kenaikan harga akan cenderung menaikkan upaya penangkapan.
Namun, hubungan upaya penangkapan dan produksi dalam perikanan tangkap tidak bersifat linier. Dalam kondisi underfishing, peningkatan upaya penangkapan akan meningkatkan produksi (hubungan positif). Namun pada kondisi overfishing, peningkatan upaya penangkapan justru menyebabkan penurunan hasil tangkapan (hubungan negatif).
Terdapat dua kondisi ekstrim sumberdaya, yaitu kondisi akses terbuka dan kondisi kepemilikan tunggal. Dalam kondisi akses terbuka (open access), kepemilikan sumberdaya “tidak jelas”, artinya tidak ada satu pihak yang mampu mengatur pengelolaan sumberdaya dimana setiap pihak dapat memanfaatkan sumberdaya sesuai dengan kepentingan dan kemauan mereka. Kondisi ini akan menyebabkan pemanfaatan sumberdaya menjadi tidak terkontrol.


Sedangkan kondisi kepemilikan tunggal (sole ownership), terdapat satu pihak yang memiliki otoritas dalam pengaturan sumberdaya. Biasanya otoritas tersebut dimiliki oleh pemerintah, atau dapat dilimpahkan kepada pihak swasta atau lembaga komunitas. Dengan demikian, akses terhadap sumberdaya bersifat terbatas, yaitu hanya kepada pihak yang memiliki ijin dan tingkat pemanfaatannya dapat dikendalikan untuk kepentingan jangka panjang.
Pada kondisi akses terbuka, peningkatan harga pada awalnya menyebabkan peningkatan produksi sampai mencapai titik puncak, selanjutnya mengalami penurunan. Titik puncak tersebut terjadi pada saat mencapai level maximum sustainable yield (MSY). Sedangkan pada kondisi kepemilikan tunggal, pemanfaatan sumberdaya dikontrol tidak melebihi level MSY, sehingga peningkatan harga ikan akan meningkatkan produksi yang tetap terkontrol tidak melebihi level MSY.



Tidak ada komentar: